ANGGI
Friends…
Ini ada satu lagi cerpen ku, cerpen ini terinspirasi dari suasana kantor yang rada-rada nyebelin dan selanjutnya baca aja deh…
“Ada apa dengan ku Tuhan?” Anggi mengehal nafas dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang terletak di sudut kamar kostnya. Anggi kelihatan letih dan diam merenung. Sepertinya akhir-akhir ini aku terlampau banyak bicara yang tidak perlu, banyak mengumpat, banyak menceritaan keburukan orang, padahal aku sendiri tidak sesempurna yang aku tuntut terhadap orang lain. Sepertinya ada penyakit dalam hatiku… dan aku tidak tahu berasal dari mana semua itu. Apalagi hari ini banyak sekali peristiwa yang membuat aku marah, sebenarnya persoalan kecil sih tapi ngga sesuai aja dengan idealisku.
Seperti di kantor, banyak sekali kejadian yang membuat kantor tidak nyaman lagi. Semua sepertinya punya prasangka buruk terhadap satu dengan yang lainnya. Dan mau tidak mau aku jadi terseret ke dalam lingkaran itu. Benar-benar membuat jiwa ku tidak sehat. Beban hidup begitu mempengaruhi aku akhir-akhir ini. “Apa yang harus aku lakukan?”
Lama Anggi terdiam …
Sebaiknya yang aku lakukan adalah diam…. Tanpa ikut campur dengan yang urusannya bersifat ga penting, kecuali hal itu benar-benar sudah mengganguku. Aku akan mecoba untuk lebih banyak mengamati, mendengarkan dan menilai yang ada didepanku tanpa memberikan komentar yang mungkin akan membuat panas suasana atau merusak hubunganku dengan yang lainnya. Aku tidak mau lagi mengumpat dan menuntut tentang apa-apa lagi dari orang-orang disekeliling dan sekitarku. “Ok besok aku mencobanya, semoga berhasil”.
“Ada apa dengan ku Tuhan?” Anggi mengehal nafas dan menghempaskan tubuhnya ke sofa yang terletak di sudut kamar kostnya. Anggi kelihatan letih dan diam merenung. Sepertinya akhir-akhir ini aku terlampau banyak bicara yang tidak perlu, banyak mengumpat, banyak menceritaan keburukan orang, padahal aku sendiri tidak sesempurna yang aku tuntut terhadap orang lain. Sepertinya ada penyakit dalam hatiku… dan aku tidak tahu berasal dari mana semua itu. Apalagi hari ini banyak sekali peristiwa yang membuat aku marah, sebenarnya persoalan kecil sih tapi ngga sesuai aja dengan idealisku.
***
Jam weker membangunkan Anggi.
Bangun… dan siap-siap untuk menikmati hari tanpa keluhan dan tanpa umpatan dan tanpa amarah. Anggi melangkah ke kamar mandi karena berencana untuk berangkat lebih awal ke kantor. “Hari ini aku ingin berubah, aku ingin menjadi orang yang sempurna, baik hati, tidak mengumpat dan tidak banyak omong.”
Baru saja Anggi melangkah ke kamar mandi ternyata sudah ada yang mendahuluinya, teman kos Anggi sudah mendahului Anggi untuk mandi.
“Sial” umpat Anggi. “Ops, ga boleh marah” Anggi tersenyum sendiri.
Dia teringat janjinya malam tadi, kalau tidak begitu mengganggu ga perlu marah dan hari ini adalah awal untuk menjadi orang yang lebih menerima apa adanya tanpa tuntutan dan tanpa umpatan. Anggi kembali lagi kekamarnya dan mengerjakan apa yang bisa di kerjakan selagi menunggu kamar mandi kosong.
“Cobaan pertama untuk hari ini sudah terlewati” bisik Anggi dalam hati.
Akhirnya Anggi dapat mandi dengan sukses dan berangkat ke kantor dengan hati yang berbunga karena hari ini dia akan menjadi orang yang sempurna.
“Itu bisku” alhamdulillah aku tidak perlu menunggu lama. Anggi naik bis dan ternyata ada bangku kosong dan Anggi langsung menuju bangku kosong itu, tapi dia didahului oleh laki-laki yang naik dari arah berlawanan dari Anggi, usianya mungkin 35an.
“Dasar laki-laki ga tau diri, aku kan perempuan” umpat Anggi. “Waduh lupa lagi nih, aku masih mengumpat… padahal udah aku wanti-wanti untuk tidak mengumpat, ternyata susah ya menjadi orang yang sempurna”.
Pagi ini aja belum kekantor aku sudah mendapat cobaan dan aku dengan sukses mengumpat dan marah. Anggi buru-buru membaca Astaghfirullah? “Ampuni aku ya Tuhan, aku hanya manusia biasa.”
Akhirnya Anggi sampai juga kekantornya. Kantor Anggi letaknya dilantai 6, so setiap pagi Anggi harus naik lift dan kali ini di lift Anggi ketemu dengan mba yang udah lama ga Anggi lihat.
“Pagi mbak Rani” sapa Anggi ramah dengan memberikan senyum yang termanis menurut Anggi.
“Assalamualaikum Anggi, tampaknya bahagia banget nih? Cerah gitu….”
“Alhamdulilah’” jawab Anggi dengan ramah.
“Tapi ngomong-ngomong kapan nih nyebarin undangannya. Kita kan mau lihat juga, seperti apa sih pasangannya Anggi?”
Anggi benar-benar ga ngerti, kenapa sepagi ini ada orang yang mengungkit-ungkit privacy dia, itu salah satu pertanyaan yang ga disukai Anggi dalam 1 tahun terakhir. Dengan sabar Anggi menjawab, karena dia sudah bertekad untuk menjadi orang yang sempurna hari ini.
“Tenang aja mba, ntar juga Anggi sebarin. Sabar ya.”
“Jangan terlampau banyak milih Gi, ntar ketuaan”.
Dengan kuping yang panas Anggi pengen sekali menjawab kasar atau apalah yang bisa melampiaskan kekesalannya, tapi yang keluar dari mulut anggi cuma
“ga kok mba, cowok-cowok aja yang ga mau sama Anggi”
kok lama sekali ya lift ini sampai lantai 6, pikir Anggi dalam hati.
Empat..lima..enam.. yap akhirnya sampai juga,
“Duluan mba” Sambil melangkah keluar lift. Anggi merasa lepas dari siksaan.
“O ya..hati-hati…, ditunggu ya undangan nya.”
Anggi udah ga dengerin lagi suara mba Rani.
Anggi meletakkan tasnya dibangku dimana Anggi biasa bekerja. Rencananya Anggi hari ini mau melanjutkan pekerjaan yang kemaren hampir selesai. Alhamdulillah… komputer masih nganggur… berarti aku yang terlebih dahulu. Maklum dikantor Anggi komputer hanya ada dua. Dan untunglah belum ada yang datang. Anggi mengerjakan semuanya dengan tenang. Kemudian satu per satu teman Anggi mulai berdatangan dan setiap mereka memberikan komentar yang sama “tumben Gi”.
Anggi hanya menjawab “berubah menjadi lebih baik kok dibilang tumben” dan mereka jawab dengan nyengir kuda.
Siang hari Anggi mendengar ada keributan.
“Kok siang begini malah berantem sih, kaya ga ada kerjaan lain aja”. Bisik Anggi dalam hati, Tapi Anggi yakin bahwa hal itu disebabkan karena arogan dan keegoisan dari seseorang yang terkenal denga sebutan Mr. Trouble di kantor Anggi. Dan karena dialah akhir-akhir ini Anggi dan teman-teman seakantor Anggi menjadi orang yang pengumpat, ngomongin dan sebagainya. Tapi kali ini Anggi ga mau komentar. Anggi hanya berhenti sejenak untuk mendengarkan penyebab keributan itu dan kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
“Aku ga mau ikut campur, menghabiskan waktuku saja”.
Setelah terjadi keributan itu, semua hening. Tiba-tiba Anggi dipanggil oleh bosnya. Ternyata Anggi diserahin tugas yang menurut Anggi bukan Tugasnya. Tapi Anggi mencoba bersabar untuk menerima apa adanya.
Anggi pusing, dari pagi tadi banyak sekali cobaan untuk menjad orang yang sempurna.
Anggi mendengar dari tempat dia duduk ada suara-suara yang sedang menceritakan keributan tadi dan sambil memberikan komentar masing-masing, dan biasanya Anggi ada diantara mereka, tapi kali ini Anggi mencoba untuk tidak memperdulikan mereka, Anggi ga mau bergabung dengan mereka. “Untung ada tugas dari bos, lebih baik aku mengerjakan tugas ku daripada bergabung dengan mereka”.
***
“Time is over”, Anggi melirik jam tangannya. “Waktunya pulang”.
Anggi membereskan mejanya dan segera bergerak pulang. Sampainya Anggi di luar ternyata hujan telah membasahi bumi sedari siang tadi sehingga jalanan banyak yang tegenang air. Dengan hati-hati Anggi melangkahkan kaki dan awas…. Belum sempat Anggi bergerak menjauh dari genangan air yang ada dipinggir jalan, Anggi kena cipratan dari mobil yang ga tau sopan sudah membuat baju Anggi basah.
“Cukup sudah penderitaanku hari ini”.
Anggi berfikir semoga ini pelajaran yang sangat berarti dan nantinya aku bisa menjadi orang yang sempurna.
Sesampainya Anggi di kamar kostnya, Anggi kembali duduk di sofa yang merupakan tempat faforitnya untuk merenung dan melepas letihnya seharian. Anggi merenung kembali apa yang telah dialaminya hari ini.
Fikiran Anggi menerawang mulai dengan peristiwa kamar mandi tadi, bangku kosong di bis, peristiwa di lift, keributan siang di kantor, panggilan untuk mengerjakan tugas dan yang terakhir cipratan air, Anggi melihat dengan jelas sekarang semua itu merupakan satu pola dimana semua peristiwa itu mengesalkan dan hal tersebut disebabkan karena semua itu tidak sesuai dengan kehendak kita. Seseorang telah menghalangi atau mengacaukan kita untuk mewujudkan keinginan kita sehingga keluarlah umpatan atau makian atau membicarakan orang yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Sekarang jelas terlihat, sebenarnya umpatan itu berasal dari lingkungan kita, lingkunganlah yang menyebabkan kita mengumpat dan orang-oranglah yang membuat kita mengumpat. Dan apabila kita tidak sabar maka jadi pendosalah kita. Jadi kita rugi dua kali, sudah mendapat kerugian dari perbuatan orang terhadap kita, kita juga ikutan berdosa dalam mengumpat orang, benar-benar merugikan kita. Anggi hanya bisa menghela nafas. Jadi…. Mulailah menerima apaadanya, jangan memaksakan kesempurnaan kepada orang lain untuk mewujudkan keinginan kita.
Andaikan saja semua orang berfikir seperti Anggi dan merenung seperti Anggi, pasti setiap orang akan menikmati hari-harinya dengan tidak ada beban karena tidak satupun yang menganggu orang lain, semua orang bersikap sopan, tidak bertanya mengenai pertanyaan yang sensitif, tidak emosi sehingga tidak ada makian, tapi sepertinya kalau kita menuntut semua orang didunia ini seperti Anggi ya tidak fair juga, karena Tuhan menciptakan setiap manusia dengan isi otak yang berbeda dan pemahaman yang berbeda terhadap kehidupan, so… walaupun menjadi orang yang sempurna itu susah maka apa salahnya kita mencoba menjadi orang yang mendekati kesempurnaan seperti yang dilakukan Anggi.
Kepada Tuhan lah kita memohon dan minta ampunan atas segala ketidak sempurnaan kita sebagai manusia.
RiniSurya