Terperangkap dalam situasi yang tidak diinginkan.
Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan isi dari novel yang berjudul The First Time karangan Joy Fielding. Dalam novel ini menceritakan seorang suami (Jack) yang terperangkap dalam perkawinannya, karena perkawinannya terjadi hanya karena kondisi yang memaksa mereka untuk bersatu dalam mahligai rumah tangga bukan karena mereka ingin, tetapi karena keterpaksaan dan disertai dengan ketidaksiapan kedua belah pihak. Poor man…
Dari sisi perempuan, menyedihkan memang untuk sang istri (Mattie) yang merasa perkawinannya yang tidak bahagia, tidak seperti orang kebanyakan, karena hanya untuk mempertahankan perkawinan demi anaknya dan rasa cinta yang dia miliki, Mattie menutup mata atas perselingkuhan-perselingkuhan yang dilakukan oleh Jack. Mattie bisa saja meninggalkan Jack karena dia juga tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan para wanita selingkuhan Jack, tetapi Mattie tidak ingin, karena dia sangat memuja dan mencintai Jack. Dengan perasaan seorang wanita yang kuat dan melankolis, Mattie menjalani kehidupan yang sangat teramat menyiksa dirinya.
Tepat ketika Jack akan meninggalkan dirinya bersama perempuan lain (Honey Novak) yang lebih dari diri Mattie (menurut Jack), disaat itulah Mattie mendapatkan dirinya mengidap penyakit yang menyerang lumbal nya dimana penyakit tersebut sedikit demi sedikit akan menggerogoti kemampuan motoriknya, dan kemudian Mattie akan lumpuh dan kehidupannya akan segera berakhir.
Dokter menduga penyakit yang diderita Mattie dikarenakan tekanan selama hidupnya, semenjak masih kanak-kanak dia telah dibenci oleh ibunya, karena alasan yang tidak bisa diterima Mattie yaitu karena Mattie sangat mirip dengan ayahnya. Dan Ibunya sangat membenci dan dendam kepada ayahnya yang telah meninggalkan ibunya tanpa sebab. Sehingga apapun yang Mattie lakukan tidak merubah sikap ibunya untuk lebih mencintai dan menyayangi dia. Sampai Mattie dewasa dan berumahtangga pun mengalami hal demikian, Jack tidak mencintai dia, Jack menikahinya hanya karena dia telah hamil, kehamilan Mattie karena hubungan mereka yang kebablasan. Karena Jack tidak mau menjadi orang jahat, maka Jack bertanggung jawab atas perbuatannya. Seumur hidup, Mattie tidak mendapatkan cinta dengan semestinya. Poor lady…
Sampai suatu saat…Mattie tidak sanggup menghadapi semuanya sendiri, Mattie berlutut dan meminta Jack untuk berpura-pura mencintai dirinya hanya sampai dia mati, karena sebentar lagi hidupnya akan berakhir.
Semenjak itulah perubahan dalam hidup Mattie dimulai, Jack meninggalkan selingkuhannya, Honey Novak untuk sementara waktu dan mulai berpura-pura mencintai diri Mattie. Mereka mulai menjalani kehidupan rumah tangga layaknya sepasang suami istri yang harmonis. Lambat laun rumah tangga mereka membaik, Jack sepertinya sangat menyayanginya dan hubungan mereka juga membaik, mereka sudah bisa tertawa dan berbicara dari hati ke hati, hubungan Mattie dengan anak dan ibunya juga mulai membaik, mereka menjadi keluarga yang harmonis.
Pada saat Mattie meninggal dunia, keluarga dan situasi rumah tangganya sudah dalam keadaan baik. Happy ending…:)
Ternyata...
Mugkin kita harus memperlihatkan kelemahan kita untuk dicintai seseorang (Kaliiiii.....). Dan cinta akan tumbuh apabila kita mencoba mengerti dan menghargai pasangan. Bener ga siiih...:)
Kok ujung-ujungnya cerita cinta lagi yaaaa..:(
Waaaah ga terasa yaaa hari ini sudah hari ke-2 dari bulan ramadhan... kita sudah melewati berbuka puasa dua kali dan zahur (besok jam 3 pagi) dua kali. Untuk yang berpuasa selamat yaaaa semoga kita dapat menjalankan puasa ini dengan baik dan benar... dan semoga puasa kita diterima oleh Allah... amiiiin
Kebetulan saya ada cerita tentang kata CINTA... ini sih ga ada hubungannya dengan kalimat saya yang di atas...yang di atas cuma kalimat pembuka saja....
Naaah kemaren ada kejadian yang menarik.... berawal dari kata CINTA yang tertulis dalam sebuah bacaan... nah dari situlah berawal obrolan antara saya dan ponakan saya. Nama ponakan saya itu syifa salsabila... usianya 8 tahun...Saya pengen insert foto dirinya tetapi berhubung koneksi lambat..so..ga bisa-bisa...akhirnya hanya ceritanya saja....
Obrolan yang terjalin seperti ini:
Syifa: ulin tau ga arti cinta apa...?
Saya: yaaa ulin ga tau..emang syifa tau...?
Syifa: tau... cinta itu sebenarnya singkatan Lin....
Saya: emang iya? apa coba?
Syifa: masa ulin ga tau...payah ni ulin ga tau kepanjangan CINTA,
Saya: beneran ulin ga tau....udah cepetan
Syifa: dengerin ya lin.....C itu cayang, I itu indah, N itu nature, T itu tenang dan A itu aman.
Dalam hati saya, bisa-bisanya anak kecil ini tau....terus saya nanya balik,
Saya: kalau yang lain nya ulin ngerti, tapi.... kenapa N itu Nature
Syifa: Nature itu berarti alami...tidak dipaksakan...gitu liiin
Saya: Oooo gitu ya... syifa...syifa....
Saya takjub dengan obrolan tersebut, selama ini kan saya bingung untuk mendefinisikan cinta itu apa sih...eeeeh taunya ponakan saya yang masih muda belia dengan ringannya menguraikannya satu persatu meskipun saya yakin dia hanya menghafal kata tersebut yang mungkin berasal dari mana saya tidak tahu persis dan saya yakin dia tidak memahami maknanya.
Tapi dari obrolan itu saya bisa menyimpulkan yang namanya cinta sekarang...Meskipun cinta versi ponakan saya....
Dengan adanya cinta...maka rasa Sayang akan muncul, semuanya terlihat Indah, dan ingat cinta itu tidak dipaksakan bersifat alami (Nature)... berjalan apa adanya dan apabila kita mencintai seseorang kita merasa Tenang dan Aman bersamanya....
Jadi....sudahkah kita menemukan cinta kita..???...
Bermula dari keisengan mengumpulkan voucher mentari yang saya beli. Saya mengumpulkannya dari semenjak menggunakan kartu mentari yaitu bulan April tahun 2003. Naaah kemaren malam saya bersih-bersih dan melihat voucher yang sudah saya kumpulkan sekian lama dan iseng-iseng menghitung nya, pengen tau aja berapa sih uang yang telah dikeluarkan untuk ini. Kemudian saya konvert ke dalam rupiah, detailnya dapat dilihat di bawah ini:
- voucher 10 ribu : sebanyak 4 : 4 x 12.000,-= Rp 48.000,
- voucher 25 ribu : sebanyak 14: 14 x 27.000,-= Rp 378.000,
- voucher 50 ribu : sebanyak 29: 29 x 52.000,-= Rp 1.508.000,
- voucher 100 ribu : sebanyak 16: 16 x 102.000,-= Rp 1.632.000,-
Kalo ditotal voucher yang sudah saya gunakan sampai bulan September 2006 (hampir 3,5 tahun) ke dalam rupiah adalah sebanyak 3.566.000,-. Waaah lumayan juga yaaa kalo di tabung he he, lumayan bisa dapet buat nambah-nambah renovasi rumah ato buat liburan kali yaaaa ...:)
Tapi ntar dulu..., uang sebanyak itu saya gunakan bukannya tanpa tujuan tapi bertujuan untuk berkomunikasi dan seperti kita ketahui bersama bahwa komunikasi merupakan salah satu cara untuk menyeimbangkan jiwa dengan melepaskan ketegangan yang menghimpit jiwa melalui bahasa yang terjalin antara dua manusia sehingga jiwa kita menjadi seimbang kembali...:)
Makanya keisengan saya muncul lagi, saya pengen tau apakah saya termasuk orang boros atau tidak....Makanya angka tersebut (3.566.000,-) saya bagi dengan 41 bulan yaitu dari bulan April 2003 sampai September 2006. Ternyata... saya tidak boros-boros banget dalam menggunakan pulsa, karena kalo dirata-ratakan untuk setiap bulannya saya mengeluarkan Rp. 86.975,61 atau kalo dibulatkan... menjadi Rp. 87.000,- tidak sampai 100 ribu kaaan???
Jadi... kesimpulannya saya termasuk yang hemat doooong...:)
Senang rasanya mendapatkan kesimpulan yang melegakan...:)
Jakartaaa…Jakartaa… temen saya sering mengungkapkan kata-kata tersebut kalau melihat keganjilan yang menurut dia tidak ditemukan dimana-mana kecuali
Jakarta. Salah satunya adalah melihat life style masyarakat Jakarta dalam berpakaian atau kebiasaan mereka sehari-hari.
Memang siiih, saya akui masyarakat Jakarta dipaksa untuk konsumtif, bayangin aja pembangunan mall dimana-mana… di setiap penjuru kota di Jakarta berdiri Mall, Plaza, Trade Centre, dan supermarket. Jadinya… untuk mendapatkan pakaian demi penampilan dan gaya bisa didapatkan dengan mudah, dari harga termurah sampai termahal pun tersedia J
Dan tidak disangkal lagi bahwa masyarakat Jakarta suka latah…suka ikut-ikutan biar tidak dibilang kampungan atau ketinggalan zaman. Contoh konkretnya memakai jaket hitam, coba saja perhatikan sekarang ini 9 dari 10 laki-laki memakai jaket hitam untuk ke kantor, bener-bener latah. Saya akui sih memang mereka kelihatan lebih gagah tapi…gimana yaaa J. Pikiran positifnya sih mungkin mereka memakai itu untuk melindungi pakaian mereka dari debu atau dari lecek atau... hanya sekedar gaya??? Hanya mereka yang tau :)
Naaah…kalau teman saya ini mencoba ikutan latah dengan menggunakan earphone yang disambungin ke HP atau mp3 player yang saat ini banyak sekali kita jumpai di Jakarta. menurut dia satu dari 10 orang Jakarta, eksmud (baik wanita atau laki) menggunakan yang namanya earphone. Yang menarik dari peristiwa ini… dia sangat anti pati dengan kehidupan ataupun masyarakat Jakarta. Dimata dia… masyarakat Jakarta itu korban dari kehidupan yang memaksa mereka untuk Ja’im, bukan apa adanya, tapi apa yang terjadi??? dia sendiri melakukan ke ja’iman tersebut, ikut-ikutan latah memakai earphone. Lebih lucunya lagi… ternyata dia bukan memakai earphone dari HP atau mp3 tapi apa coba???? earphone tanpa ada sambungan ke HP ataupun ke mp3, jadi Cuma earphone nya ajaH….. Awalnya sih saya heran, kok dia pake earphone... tapi Hp nya ada di pinggang… dan setahu saya… dia ga punya yang namanya mp3 player, naaah..saking penasarannya saya nanyakan apa lagunya? Terus dia bilang tarik aja, terus saya tarik dari sakunya, ternyata ga ada sambungannya kemana-mana jadi cuma earphonenya saja, hanya kabel... dasar….gila, iseng bangeeeet. Saya langsung ngakak, kok bisa yaaaa....dari tadi keliatannya serius dengerin sesuatu tau-taunya ....boongan...:)
Dari cerita dia, ternyata dia melakukan itu bukan mau ikutan latah tapi dia iseng aja, ingin membohongi publik, he he ada-ada aja ya, dan ternyata dia berhasil dengan sukses...salut...salut atas kegilaan dia...:)
Semenjak peristiwa itu saya jadi senyum-senyum sendiri setiap melihat ada yang memakai earphone jangan..jangan..mereka cuma membohongi publik…seperti temen saya itu.