Belum
Finally… Aku dapat mempublikasikan cerpen ku meskipun di blog ku sendiri
Tapi ada 2 ending, jadi….mana yang lebih bagus ya ????
Maklum masih amatiran
Belum
Aku bersimpuh tafakur di atas sajadah yang membentang didepan ku, sajadah ku basah dengan air mata. Mungkin sudah satu jam aku berada diatasnya. Aku hanya tidak mengerti mengapa ini semua menimpa ku, apakah aku sudah salah selama ini atau memang ini cobaan yang harus aku jalani? Mengapa Mas Raka begitu tega kepadaku? Suami yang begitu bertanggung jawab dan penuh kasih kepada anak-anak, berubah begitu cepatnya. Apakah memang aku yang salah atau laki-laki memang begitu maunya? Entahlah…
Tuhan tolong kuatkan aku menerima cobaan Mu, aku harus kuat menghadapi nya, aku harus kuat untuk anak-anak ku.
Aku merenung… selama ini sepertinya tidak ada masalah antara aku dan mas Raka tetapi tujuh hari yang lalu, aku menemukan sesuatu yang membuat darahku membeku. Aku tidak sengaja membuka sms di HP nya mas Raka, pada saat itu Mas Raka sedang dikamar mandi, bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, dan tiba-tiba HPnya berbunyi menandakan ada sms masuk, dan secara spontan aku membuka sms dan membacanya. Karena selama ini memang tidak ada rahasia antara kami, dan ternyata apa yang aku lihat tulisan yang tidak pernah aku lupakan “mas, keluarga saya sudah siap untuk acara lamaran yang mas rencanakan”, aku benar-benar terkejut dan langsung menanyakan hal tersebut kepada mas Raka.
Pada saat itu Mas Raka terlihat terkejut tetapi langsung bisa menguasai keadaan dan dengan tenangnya dia menyuruh aku duduk dan dia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Mas Raka mengutarakan rencananya akan menikah lagi dengan tidak menceraikan aku. Dan alasan mas Raka untuk menikah hanya karena dia ingin mendapatkan keturunan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari aku. Aku tidak habis fikir mas Raka punya fikiran seperti itu. Pada saat itu aku sempet mencoba bertanya kepada mas Raka, apa yang salah dengan anak-anak kita, keadaan fisik mereka bagus dan lengkap, prestasi sekolah mereka tidak buruk walaupun juga tidak terbaik, kesopanan mereka masih dalam batas normal, kenakalan mereka seperti anak biasanya tidak ada yang luar biasa. Tetapi pada saat itu mas Raka hanya mengatakan bahwa dia hanya ingin keturunan yang lebih baik dari yang sudah ada. Percakapan pada saat itu sangat membuatku terluka walaupun pada saat itu aku coba untuk kelihatan tegar tapi dalam hatiku amat teramat terhina, sakit dan luka.
Setelah percakapan itu aku jadi berfikir, ada apa dengan mas Raka, apakah menurut dia begitu buruk keturunan ku sehingga mas Raka harus mencari orang lain untuk memperbaiki keturunannya, begitu tidak puaskah mas Raka dengan diriku. Entahlah…
Semenjak kejadian itu aku lebih banyak diam daripada bicara atau sekedar menjawab pertanyaan mas Raka. Aku bingung akan berbuat apa?
Hari berikutnya mas raka marah-marah, tidak tau kenapa dia selalu menyalahkan aku, apa saja menjadikan dia marah. Dan dia selalu mengungkit-ungkit keturunan ku yang kurang berpendidikan. Memang keluarga ku hanya pedagang batik yang turun temurun, dan dari sanalah ayah dan ibu ku membesarkan kami. Dan sampailah kami berencana untuk menikah. Ayah setuju-setuju saja tetapi ibu kurang setuju karena pada saaat itu mas Raka masih belum punya apa-apa, tetapi dengan keyakinan ku pada saat itu, aku yakin memilih mas Raka sebagai pendamping hidupku.
“Assalamualaikum” suara di pintu membuyarkan aku dari renungan di atas sajadah…
“Waalaikumsalam..” aku merapikan kain sembahyang dan sajadah kemudian membukakan pintu untuk mas Raka.
“Belum tidur ya?
“Belum Mas”
“Loh kamu kenapa? Sepertinya mata kamu bengkak? Kamu menangis lagi ya?” Tanya mas Raka
“Engga mas… mungkin saya kurang tidur saja” jawab ku mengelak
“Kamu menangis atas niat saya untuk menikah lagi kan? Tanya mas Raka tanpa menghiraukan jawaban ku.
“Tidak Mas”
“Ada apa sih dengan kamu? suaminya mau melakukan yang terbaik kok dihalang-halangi? Dia itu lebih baik dari kamu, aku pasti akan mendapatkan keturunan lebih baik dari apa yang ada sekarang. Aku yakin anak-anak mu akan bisa mencontoh dan terinspirasi dari anak-anak ku dengan dia kelak”
Aku berfikir, apakah mas Raka tidak menenggang perasaanku sedikitpun, tega-teganya dia berkata seperti itu. Secara tidak langsung… mas Raka telah mengatakan bahwa selama ini dia telah menyesal menikahiku. Kenapa dia mengatakan itu saat ini. Mengapa dia tidak mengatakan sebelum dia menikahiku. Kenapa dia menyebutkan anak-anak ku bukankah anak-anak ku anak dia juga? Tuhan apa yang telah masuk ke dalam fikirannya mas Raka saat ini. Apa sebaiknya yang aku lakukan sekarang? Aku hanya diam, bingung mau menjawab apa. Aku hanya menatap mas Raka yang aku tidak kenal lagi.
“Kamu itu kalau diajak ngomong pasti ga bisa, diaaaam saja, aku kan ga ngerti apa mau kamu.” Bentak mas Raka
Aku tersentak mendengar teriakan mas Raka dan menjawab sekenanya “Sudah malam mas, besok saja kita bicarakan, saya sudah mengantuk”. Sekarang aku benar-benar muak mendengar suara mas Raka. Aku ingin pergi sejauh mungkin yang aku bisa lakukan. Aku benar-benar tidak mau mendengar lagi ucapan mas Raka tentang niatnya itu. Setiap mas Raka mengatakan hal tersebut aku benar-benar hancur, tidak dapat aku bayangkan aku berbagi cinta dan kasih sayang mas Raka dengan orang lain. Malam itu aku tertidur dengan fikiran yang benar-benar hancur…. Biarlah tidur membawa masalah ku malam ini.
RS
Yth, Mba Arin
Di tempat
Assalamulaikum Wr. Wb.
Perkenalkan mba, saya Anggi calon istrinya mas Raka. Mas Raka yang sama-sama kita cintai. Mungkin mba sudah mendengarnya dari mas Raka, bahwa saya dan mas Raka akan menikah. Tentunya saya tidak mau apabila nantinya saya sudah menikah dengan mas Raka, kita tidak saling kenal, untuk itu mba… saya berharap sekali bertemu dengan mba, ingin bicara dari hati ke hati. Saya tau mungkin mba merasa tersakiti tetapi niat saya dan mas Raka tidak sejahat yang mba kira. Dan mungkin nanti pada saat kita bicara sebagai sesama perempuan, mungkin bisa membuat kita saling berlapang dada dalam masalah ini. Demikian dulu surat saya kali ini mba, terimakasih sebelumnya atas waktu untuk membaca surat ini dan saya tunggu hari untuk kita bertemu, mungkin bisa diinformasikan kepada mas Raka. Sekali lagi terimakasih mba.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Salam Hormat
Anggi
Untuk sesaat setelah membaca surat itu, aku benar-benar tidak bisa bergerak dan rasa sakitnya semakin dalam kini Tuhan. “Tuhan apa yang sekarang harus aku lakukan, sakit sekali rasanya, cobaan ini begitu menyakiti ku. Sekarang semakin dalam dari yang kemarin. Aku tidak tau lagi akan bersikap seperti apa kepada mas Raka.
Aku melangkah menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Aku ingin ketenangan dan aku yakin ketenangan hanya aku dapatkan bila mengadu kepada Tuhan. Cobaan ini berasal dari Tuhan dan karena itu aku yakin Tuhan pasti punya jawaban atas semua ini. Aku ingin menenangkan hati untuk bisa befikir lebih tajam dan merencanakan tindakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Satu hal yang membuat aku kuat aku masih punya anak-anak dan anak-anak tidak perlu tau masalah ini. Cukup aku saja.
Aku melangkah menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Aku ingin ketenangan dan aku yakin ketenangan hanya aku dapatkan bila mengadu kepada Tuhan. Cobaan ini berasal dari Tuhan dan karena itu aku yakin Tuhan pasti punya jawaban atas semua ini. Aku ingin menenangkan hati untuk bisa befikir lebih tajam dan merencanakan tindakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Satu hal yang membuat aku kuat aku masih punya anak-anak dan anak-anak tidak perlu tau masalah ini. Cukup aku saja.
RSRS
“Mas aku ingin bicara”
“Ya ada apa?”
“Tadi siang aku mendapatkan surat dari Anggi, katanya dia mau ketemu sama aku.”
Dengan sikap pura-pura kaget, entahlah… aku tidak perlu tau perubahan di wajahnya mas Raka kali ini. Untuk saat ini hal itu tidak penting lagi.
Dengan sikap pura-pura acuh mas Raka menjawab “Terus kapan mau ketemunya?
“Saya ada waktunya besok mas, sekalian keluar rumah karena besok ada rapat dengan wali murid di sekolahan anak-anak. Setelah makan siang di Grande.”
“Kenapa tidak makan siang sekalian sama Anggi?”
“Acara disekolahan sepertinya sampai makan siang mas.”
“Baiklah kalau begitu, nanti saya sampaikan.”
Aku tidak bisa lagi bicara apa-apa, sepertinya di dunia ini aku tidak punya siapa-siapa lagi, selama ini aku hanya punya mas Raka dan anak-anak, tetapi satu milik ku terancam pergi. Kini mas Raka sudah berubah, kini aku tidak bisa mengeluh kepada dia, tentang kenakalan anak-anak, aku tidak mau disalahkan, aku tidak mau diberikan satu lagi judgement ibu yang tidak bisa mengurusi anak-anak. Kini aku tidak punya tempat untuk bercerita apa adanya, aku tidak mau dinilai buruk oleh mas Raka.
“Kok diam?” tanya mas Raka
Aku terkejut dari lamunanku, “engga mas.. saya hanya berfikir, apa yang nanti akan dibicarakan dengan Anggi.
“Jangan cemas, Anggi hanya ingin ketemu kamu kok, nanti wajar-wajar aja kalo ketemu dia, kamu jangan emosional, saya berharap kamu bisa memperlihatkan kedewasaan kamu dan sebagai istrinya Raka yang kuat, kamu jangan malu-maluin saya nantinya disana.”
Aku kaget mas Raka mengatakan demikian, bersikap wajar? Apakah nanti aku bisa bersikap wajar, apakah mas Raka tidak tau bagaimana perasaanku membaca surat dari Anggi. Aku tidak bisa menerima sikap mas Raka, dia hanya menjaga perasaan Anggi, dia tidak mau tau seperti apa perasaanku saat ini?
Aku meninggalkan mas Raka, aku ingin pergi jauh. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan dengan mas Raka.
“Ya ada apa?”
“Tadi siang aku mendapatkan surat dari Anggi, katanya dia mau ketemu sama aku.”
Dengan sikap pura-pura kaget, entahlah… aku tidak perlu tau perubahan di wajahnya mas Raka kali ini. Untuk saat ini hal itu tidak penting lagi.
Dengan sikap pura-pura acuh mas Raka menjawab “Terus kapan mau ketemunya?
“Saya ada waktunya besok mas, sekalian keluar rumah karena besok ada rapat dengan wali murid di sekolahan anak-anak. Setelah makan siang di Grande.”
“Kenapa tidak makan siang sekalian sama Anggi?”
“Acara disekolahan sepertinya sampai makan siang mas.”
“Baiklah kalau begitu, nanti saya sampaikan.”
Aku tidak bisa lagi bicara apa-apa, sepertinya di dunia ini aku tidak punya siapa-siapa lagi, selama ini aku hanya punya mas Raka dan anak-anak, tetapi satu milik ku terancam pergi. Kini mas Raka sudah berubah, kini aku tidak bisa mengeluh kepada dia, tentang kenakalan anak-anak, aku tidak mau disalahkan, aku tidak mau diberikan satu lagi judgement ibu yang tidak bisa mengurusi anak-anak. Kini aku tidak punya tempat untuk bercerita apa adanya, aku tidak mau dinilai buruk oleh mas Raka.
“Kok diam?” tanya mas Raka
Aku terkejut dari lamunanku, “engga mas.. saya hanya berfikir, apa yang nanti akan dibicarakan dengan Anggi.
“Jangan cemas, Anggi hanya ingin ketemu kamu kok, nanti wajar-wajar aja kalo ketemu dia, kamu jangan emosional, saya berharap kamu bisa memperlihatkan kedewasaan kamu dan sebagai istrinya Raka yang kuat, kamu jangan malu-maluin saya nantinya disana.”
Aku kaget mas Raka mengatakan demikian, bersikap wajar? Apakah nanti aku bisa bersikap wajar, apakah mas Raka tidak tau bagaimana perasaanku membaca surat dari Anggi. Aku tidak bisa menerima sikap mas Raka, dia hanya menjaga perasaan Anggi, dia tidak mau tau seperti apa perasaanku saat ini?
Aku meninggalkan mas Raka, aku ingin pergi jauh. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan dengan mas Raka.
RSRSRS
Hari pertemuan itupun tiba.
Pada saat itu, aku sengaja datang lebih awal, aku ingin menenangkan diri dan bersikap sewajar mungkin, walaupun ini bukan rumahku tapi aku ingin menjadi tuan rumah. Aku ingin membuktikan bahwa aku perempuan kuat. Tepat pada jam yang telah ditentukan Anggi telah muncul dihadapan ku dan dengan senyum dia menghampiriku. Senyum tulus. Dari penampilannya Anggi perempuan yang menarik, masih muda, mungkin usianya lebih muda 10 tahun dari aku. Dan kelihatan dari cara dia berjalan dan berjabat tangan, dia sangat percaya diri. Mungkin dia memang terbiasa bertemu dengam orang lain. Aku bingung harus bersikap seperti apa? Seperti tidak terjadi apa-apa dengan berlaku yang sama seperti dia, memberikan senyum setulus yang aku punya?
Tanpa berfikir aku membalas senyum dan jabatan tangannya sebaik yang aku bisa lakukan pada saat itu.
Aku bersikap sebagai tuan rumah, sedikit kaku aku mempersilahkan Anggi untuk duduk “Silahkan duduk”
“Mau memesan apa? Sudah makan?” Tanyaku
“Minum saja mba, saya sudah makan.”
Aku memesankan minum untuk Anggi, aku berfikir, baik sekali aku memberikan minum untuk orang yang akan merebut mas Raka dari ku. Sudahlah aku berfikir… untuk hari ini aku ingin menampilkan ketegaran diri ku.
Pertemuan itu aku mulai dengan bertanya kepada Anggi, siapa dia sebenarnya.dan alhamdulillah aku bisa sekuat itu, aku mendengarkan dengan baik saat dia bercerita tentang dirinya, keluarganya dan latar belakang pendidikannya dan bagaimana cara dia bertemu dengan mas Raka, semua lancar dari mulutnya. Dan dia menceritakan segalanya tanpa menutupi-nutupi satu halpun, tapi aku pun tidak tau pasti apabila dia menyembunyikan hal lain. Dari cara dia berbicara juga bagus, dia menceritakan dengan baik, sehingga tidak ada kesan menyombongkan diri. Pada saat itu hati ku semakin hancur, Anggi memang perempuan yang baik dan aku tidak bisa bersaing dengan dirinya. Dia terlampau sempurna untuk dibandingkan dengan diriku, aku tidak bisa menyamai dirinya. Selain aku bertanya tentang dirinya dan keluarga, aku juga berdiskusi mengenai agama, dan dari diskusi tersebut aku tidak menemukan kekurangannya. Dan satu hal yang aku tidak setuju atas pernyataannya “mas Raka bukan mulik siapa-siapa tetapi hanya milik Tuhan” dan aku tau maksud dari pernyataan tersebut, jadi seharusnya aku harus berlapang dada untuk menerima keputusan mas Raka untuk menikah lagi karena mas Raka bukan milik ku tetapi milik Tuhan. Dari sekian banyak pembicaraan dan diskusi dengan Anggi, hanya kata-kata itu yang aku tidak setuju.
Kami mengakhiri pertemuan itu menjelang magrib, dan aku harus pulang dan aku masih belum tau harus berbuat apa.
Dalam perjalanan pulang aku sempat berfikir… aku benci mas Raka dan aku benci Anggi, mengapa dia tidak mencari laki-laki yang masih sebaya dengan dia karena dengan sekian banyak kelebihan yang dia punyai, akan gampang untuk merebut lelaki yang masih lajang dan sebaya dengan dirinya, mengapa harus mas Raka?
Entahlah apa yang ada dibalik ini semua, ada hikmah apa ya Tuhan?
RSRSRSRS
“Arin…. Anak-anak pada kemana?”
“Belum pulang mas, mungkin mereka ke rumah sebelah.”
“Apa!? Kamu bilang mungkin, emangnya mereka tidak minta izin ke kamu?
“Kebetulan tadi saya lagi sibuk mas, jadi saya tidak jelas banget kemana mereka pergi.”
“Kamu tau tidak… sekarang sudah jam berapa, sudah malam begini masih berkeliaran saja di luar. Tuh seperti itu kamu, tidak disiplin, anak dibiarkan saja, tidak ada aturan dirumah ini, mereka semua sudah salah didik selama ini.”
“Maklum mas…kan lagi liburan.”
“Ya walaupun lagi liburan tetap saja ada disiplin. Makanya kamu itu salah mendidik mereka,”
Kata-kata terakhir selalu muncul dalam setiap pertengkaran aku dan mas Raka, selalu aku yang salah dalam mendidik, dan mas Raka tidak ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Biarlah aku sudah mulai kebal dengan marahan dan perkataan mas Raka seperti itu. Aku coba untuk sabar.
“Mas, mereka kan ga kemana-kemana, biasanya mereka juga main di rumah sebelah, hal itu mas juga tau kan, paling mereka ngobrol atau belajar bermain biola atau belajar melukis.”
“Iya, saya sudah tau dari dulu, tapi mau jadi apa mereka dengan hanya begitu, bok ya belajar, baca buku atau apalah yang lebih bermanfaat. Semuanya tidak ada yang bisa dibanggakan.”
“Mereka kan lagi libur mas, biarlah mereka….”
“Memang… air cucuran atap jatuhnya ga jauh-jauh, keluarga ngebatik ya anak cucunya ya ga jauh dari itu.” Gumam mas Raka dengan keras dan jelas tanpa menunggu aku menyelesaikan kalimatku.
Aku benar-benar tersentak dengan kata-kata mas Raka, selama ini aku benar-benar dianggapnya seperti apa? Selama ini aku memang masih bersabar, tetapi untuk kali ini cukup sudah. Aku tidak mau keluargaku ikut dihina juga, cukup aku saja.
“Cukup mas!!! Teriak ku sambil menahan air mata yang hampir keluar. “Aku memang tidak sehebat yang mas harapkan, tapi tolong hargai keluarga ku. Kalau mas memang kecewa terhadap aku, jangan menghina terlalu, kalau memang mas mau menikah lagi silahkan, aku tidak akan menghalangi mas, tapi tolong hargai aku dan keluargaku.”
“O begitu, jadi kamu maunya seperti apa?”
“Aku tidak sanggup disalahkan seumur hidup dan dibandingkan seumur hidup, aku mengalah mas. Aku sudah tidak kuat. Aku ikhlas mengundurkan diri dari kehidupan mas. Kalau aku memang membuat mas malu.”
“Yang malu itu siapa? Aku hanya ingin memperbaiki kamu dan anak-anak. Nantinya kamu kan bisa belajar banyak dari Anggi. Keluarganya juga bisa dijadikan panutan. Kamu memang sakit Arin, aku tidak berniat menceraikan kamu, tapi aku hanya ingin menikahi Anggi dan itu juga untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik dan itu untuk kebaikan kita bersama.”
“Silahkan mas mau berkata apa, tapi saya sudah tidak kuat lagi menahan semua ini.”
“Terus… kamu kalau cerai dari saya, kamu dapat uang dari mana,?” mau jadi gelandangan atau mau jadi istri simpanan siapa? Sebaiknya kamu itu lebih mengutamakan logika kamu bukan perasaan kamu. Di beri pilihan yang bagus malah memilih yang tidak jelas. Apa sih yang kamu fikirkan?”
“Cukup mas, cukup… Air mataku sudah tidak tertahankan lagi. Tuhan tolong kuatkan aku. Aku meninggalkan begitu saja mas Raka yang masih bicara, aku sudah tidak mau mendengarkan lagi, aku sangat sakit malam ini. Aku datang Tuhan untuk mengadu kepada Mu.
“Belum pulang mas, mungkin mereka ke rumah sebelah.”
“Apa!? Kamu bilang mungkin, emangnya mereka tidak minta izin ke kamu?
“Kebetulan tadi saya lagi sibuk mas, jadi saya tidak jelas banget kemana mereka pergi.”
“Kamu tau tidak… sekarang sudah jam berapa, sudah malam begini masih berkeliaran saja di luar. Tuh seperti itu kamu, tidak disiplin, anak dibiarkan saja, tidak ada aturan dirumah ini, mereka semua sudah salah didik selama ini.”
“Maklum mas…kan lagi liburan.”
“Ya walaupun lagi liburan tetap saja ada disiplin. Makanya kamu itu salah mendidik mereka,”
Kata-kata terakhir selalu muncul dalam setiap pertengkaran aku dan mas Raka, selalu aku yang salah dalam mendidik, dan mas Raka tidak ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Biarlah aku sudah mulai kebal dengan marahan dan perkataan mas Raka seperti itu. Aku coba untuk sabar.
“Mas, mereka kan ga kemana-kemana, biasanya mereka juga main di rumah sebelah, hal itu mas juga tau kan, paling mereka ngobrol atau belajar bermain biola atau belajar melukis.”
“Iya, saya sudah tau dari dulu, tapi mau jadi apa mereka dengan hanya begitu, bok ya belajar, baca buku atau apalah yang lebih bermanfaat. Semuanya tidak ada yang bisa dibanggakan.”
“Mereka kan lagi libur mas, biarlah mereka….”
“Memang… air cucuran atap jatuhnya ga jauh-jauh, keluarga ngebatik ya anak cucunya ya ga jauh dari itu.” Gumam mas Raka dengan keras dan jelas tanpa menunggu aku menyelesaikan kalimatku.
Aku benar-benar tersentak dengan kata-kata mas Raka, selama ini aku benar-benar dianggapnya seperti apa? Selama ini aku memang masih bersabar, tetapi untuk kali ini cukup sudah. Aku tidak mau keluargaku ikut dihina juga, cukup aku saja.
“Cukup mas!!! Teriak ku sambil menahan air mata yang hampir keluar. “Aku memang tidak sehebat yang mas harapkan, tapi tolong hargai keluarga ku. Kalau mas memang kecewa terhadap aku, jangan menghina terlalu, kalau memang mas mau menikah lagi silahkan, aku tidak akan menghalangi mas, tapi tolong hargai aku dan keluargaku.”
“O begitu, jadi kamu maunya seperti apa?”
“Aku tidak sanggup disalahkan seumur hidup dan dibandingkan seumur hidup, aku mengalah mas. Aku sudah tidak kuat. Aku ikhlas mengundurkan diri dari kehidupan mas. Kalau aku memang membuat mas malu.”
“Yang malu itu siapa? Aku hanya ingin memperbaiki kamu dan anak-anak. Nantinya kamu kan bisa belajar banyak dari Anggi. Keluarganya juga bisa dijadikan panutan. Kamu memang sakit Arin, aku tidak berniat menceraikan kamu, tapi aku hanya ingin menikahi Anggi dan itu juga untuk mendapatkan keturunan yang lebih baik dan itu untuk kebaikan kita bersama.”
“Silahkan mas mau berkata apa, tapi saya sudah tidak kuat lagi menahan semua ini.”
“Terus… kamu kalau cerai dari saya, kamu dapat uang dari mana,?” mau jadi gelandangan atau mau jadi istri simpanan siapa? Sebaiknya kamu itu lebih mengutamakan logika kamu bukan perasaan kamu. Di beri pilihan yang bagus malah memilih yang tidak jelas. Apa sih yang kamu fikirkan?”
“Cukup mas, cukup… Air mataku sudah tidak tertahankan lagi. Tuhan tolong kuatkan aku. Aku meninggalkan begitu saja mas Raka yang masih bicara, aku sudah tidak mau mendengarkan lagi, aku sangat sakit malam ini. Aku datang Tuhan untuk mengadu kepada Mu.
RSRSRSRSRS
Beberapa akhir malam belakangan ini aku mencari jawaban kepada Tuhan dan Malam ini aku kembali bersimpuh di hadapan mu Tuhan, pada malam ini keputusan ku sudah bulat untuk mengundurkan diri dari kehidupan mas Raka dan biarlah anak-anak ku dididik oleh ibu baru mereka, aku tidak bisa mendidiknya dengan baik sehingga aku dengan tidak hormat diberhentikan menjadi seorang ibu. Aku tabah menerima ini, aku tidak akan kuat ya Tuhan. Aku yakin aku dapat mencari nafkah sendiri, aku masih dapat menggunakan ijazah guruku untuk melamar pekerjaan atau paling kurang aku ikut ngebatik. Aku yakin Tuhan tidak akan menyia-nyiakan hambanya. Terimakasih Ya Tuhan malam ini sepertinya dadaku sangat lapang untuk melepaskan semua yang aku cintai, mas Raka dan anak-anak ku. Aku menangis dalam diam, menangis dalam sakit, menangis dalam letih. Semoga keputusan ku ini yang terbaik untuk semua, amin.
RSRSRSRSRSRS
End 2
Beberapa akhir malam belakangan ini aku mencari jawaban kepada Tuhan dan Malam ini aku kembali bersimpuh di hadapan mu Tuhan, pada malam ini keputusan ku sudah bulat untuk mengundurkan diri dari kehidupan mas Raka dan anak-anak akan ku didik dengan sebaik mungkin. Aku yakin aku dapat mencari nafkah sendiri, aku masih dapat menggunakan ijazah guruku untuk melamar pekerjaan atau paling kurang aku ikut usaha kelauarga. Aku yakin anak-anak ku kelak dapat membanggakan aku, keluargaku dan negaranya. Aku yakin Tuhan tidak akan menyia-nyiakan hambanya. Terimakasih Ya Tuhan malam ini sepertinya dadaku sangat lapang untuk melepaskan seseorang yang aku cintai, mas Raka. Aku menangis dalam diam, menangis dalam sakit, menangis dalam letih. Semoga keputusan ku ini yang terbaik untuk semua, amin.
RSRSRSRSRSRS
RiniSurya
Maret 2006
Posted by in 13:14:50
panjang amat tulisannya? bacanya ngga sempat nih….
print aja…. bawa pulang
alur cerita sudah mengalir bagus, hanya mohon diperhatikan penulisan
kata depan dan imbuhan agar dibedakan dan mengacu kepada
EYD……………..
Ok Nang…Makasih ya Tapi endingnya mana yang lebih bagus?ini crt bener apa gak?
kalau bnr pengalaman org bs gak bagi emailnya?
kayanya kalo laki udah gitu mendingan udahan aja gak ada gunanya di tungguin
cerita ini berdasarkan cerita dari dua orang digabung jadi ada bener dan ada engga nya.
Yap bener ma riyani kalo laki kaya gini mending ditinggalin aja..:)